Mahasiswa adalah
agent of change, katanya begitu. Ketika mendengar kata “mahasiswa” sebagian
dari kita tentu ada yang terkagum-kagum dan bangga dengan kata tersebut. Rasa
kagum dan bangga tersebut semata-mata adalah rasa yang sirna ketika apa yang
kita lihat pada kenyataannya dilapangan berbeda. Mengapa demikian? Karena jika
diperhatikan ada banyak mahasiswa yang tidak mencerminkan dirinya sebagai
mahasiswa, walaupun tidak semuanya begitu. Jika dibandingkan mahasiswa pada
zaman dahulu (misalnya tahun 60’an) dengan mahasiswa sekarang, ada beberapa
perbedaan yang dapat kita lihat dan kita teladani (dari Mahasiswa tahun 60'an). Apa saja perbedaan dan teladan tersebut? Mari kita lihat.
| Zaadit Taqwa mengangkat Kartu Kuning untuk Jokowi |
Pada
tahu 1960’an, mahasiswa menjadi tombak dan penyambung lidah masyarakat.
Mahasiswa turun ke jalan bukan untuk ajang pamer-pameran almamater, tetapi
turun untuk menyampaikan isi hati rakyat. Situasi pada tahun tersebut memang
situasi yang sangat mencekam, harga-harga melambung tinggi dan pemimpin-pemimpin
bangsa banyak yang korupsi. Situasi ini menjadi modal mahasiswa untuk
membungkam ketidakbaikan tersebut, sehingga perna mahasiswa pada zama itu
sangatlah diperlukan. Sebagai contoh sekolompok mahasiswa yang idealis pada
tahun 60’an tersebut adalah Soe Hok Gie dan teman-temannya. Soe Hok Gie adalah
tokoh mahasiswa yang menjadi saksi
perjuangan mahasiswa pada zaman tersebut. Ia dikenal sebagai mahasiswa yang
berani, kritis, dan idealis. Ia berani menentang ketidakbenaran mahasiswa dan
rezim pemerintahannya. Tulisannya yang kritis tersebut telah menyentuh dan
membuka hati para pembacanya mengenai ketidakbenaran dan kebenaran yangs
sesungguhnya.
Bagaimana
dengan mahasiswa pada zaman sekarang, masih adakah mahaiswa yang seperti pada
mahasiswa tahun 60’an? Jika saya lihat, tidak semua mahasiswa pada zaman
sekarang mencerminkan sikap mahasiswa yang sesungguhnya. Ketika turun ke jalan
dan menyampaikan isi hati rakyat, ada dari bebera mahasiswa yang
memanfaatkannya sebagai kesempatan untuk menunjukkan taringnya, memamerkan
almamater dan tubuhnya, bahkan ada yang berunsurkan politik. Meskipun tidak
semunya begitu, cerminan tersebut sangatlah tidak baik untuk dilakukan.
Sebagian dari mereka hanya berkoar-koar dan berteriak tanpa data dan fakta,
tidak seperti mahasiswa tahun 60’an. Mengingat zaman yang sudah canggih ini,
mahasiswa seharusnya menyampaikan isi hati dengan tawaran solusi yang
berdasarkan dengan data dan fakta. Kemudahan dalam mengakses data dan informasi
mengenai suatu pengetahuan ataupun permasalahan di zaman yang canggih ini
seharusnya dimanfaatkan.
Bagaimana
dengan mahasiswa yang pemberani, kritis dan idealis, apakah ada yang seperti
itu? Iya memang ada, namun tidak semua. Contohnya,
Ketua Bem UI (Zadit Taqwa) yang memberikan kartu kuning kepada Presiden Jokowi. Perbuatannya
patut dihargai, ia menyampaikan isi hati rakyat. Namun perbuatannya sempat
menjadi perbincangan dan kontoversi di mata mahasiswa, tokoh masyarakat, dan
masyarakat. Jika saya nilai, perbuatannya memang baik namun cara, tempat dan
datanya yang kurang tepat. Ini perlu menjadi koreksi kita bersama, bagaimana seberanya
menyampaikan kekritisan dan solusi pada saat yang tepat.
Mahasiswa
mempunyai peran penting dalam masyarakat, peran ini bukanlah beban namun adalah
sebuah tanggungjawab. Dengan menerapkan Tri Dharma Perguruan Tinggi, amanah ini
adalah suatu kewajiban bagi mahasiswa. Tri Dharma Perguruan Tinggi tersebut
diantaranya adalah pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.
Maka dari itu, mencerminkan pribadi sebagai mahasiswa yang sesungguhnya adalah
suatu kekaguman dan kebanggan yang sebenarnya. Contohnya pada mahasiswa di tahun
60’an. Berteladanlah dan cerminkan kebaikan seperti mereka. Sampaikan kritisi
dengan data, informasi, dan solusi pada waktu dan tempat yang tepat.
Ditulis dengan penuh kekurangan dan seadanya pada Senin, 02 April 2018 di Pontianak.
No comments:
Post a Comment