Ini adalah kali pertamaku menulis kisah hidup
seseorang di blog ini, biasanya hanya menulis untaian puisi, hasil liputan,
opini dan tugas-tugas kuliahku saja. Sekarang, aku baru saja membaca buku Soe
Hok Gie, buku ini sudah mulai
berdebu, sebab tidak pernah ku rapikan dan dibaca lagi (masih bertumpuk di atas
lemari pakaianku, berjejeran dengan buku-buku yang lainnya).
Tulisan ini bisa dibilang tulisan yang sangat
spesial bagi Soe Hok Gie, sebab hari ini adalah hari ulang tahunnya (Selamat
ulang tahun Gie, terimakasih atas catatan dan inspirasinya. Tetap tenang di
kehidupan baru di alam surga sana, God Bless You....)
Singkat cerita, muncul inspirasi untuk membagikan
kisah hidup Soe Hok Gie yang barusan aku baca ini. Mari dibaca, semoga
menginspirasi dan bermanfaat untuk kita semua (“Better when shared”).
Soe Hok Gie, ia adalah sosok yang idealis dan
kritis. Ia juga merupakan salah satu penggagas berdirinya Mapala (Mahasiswa
Pencinta Alam) di Indonesia, tepatnya di Mapala Universitas Indonesia. Ia juga
adalah sosok yang pemberani, ia tidak segan melawan setiap permasalahan
kesalahan yang hadir di depan matanya. Ia juga adalah sosok yang sangat
berpegang teguh pada pendirian prinspi-prinsipnya.
 |
Soe Hok Gie, sedang duduk bersila di atas Tugu Triangulasi Gunung Gede Pangrango 1967
Image source: www.boombastis.com |
Soe Hok Gie, ia adalah .... (masih banyak lagi deh
pokoknya).
Gie, ia akrab dipanggil dengan nama Gie. Ia
dilahirkan pada tanggal 17 Desember 1942, saat perang dunia tengah berkecamuk
di Pasifik. Sejak kecil hingga dewasa sosok Gie dikenal yang kritis, berpegang
teguh pada prinsip-prinsip hidupnya.
Soe Hok Gie kecil memulai pendidikannya di SD Sin
Hwa School, saat itu ia masih berusia 5 tahun, setelah lulus, ia masuk SMP
Strada dan menghabiskan masa sekolah menengah atasnya di SMA Kanisius Jakarta. Sejak
kecil ia sudah menorehkan agenda hariannya pada buku catatannya. Melalui
catatan hariannya sosok Gie dikenal dan dikenang hingga saat ini, kisah
hidupnya di Filmkan pada serial Film Indonesia tahun 2006 dengan Judul “Gie”.
Aku adalah salah satu dari sekian juta pengaggum
sosok Gie di Indonesia tercinta ini, bagaimana tidak, ada 5 buku tentangnya
yang aku beli dalam satu paket, sejak SMA (2012-2015) Soe Hok Gie diperkanalkan
kepadaku melalui Ekskul Sispala (Siswa Pencinta Alam) di sekolahku, Rempa
Smansa Sekadau. Saat itu aku masih menjadi calon anggota dan menerima materi
tentang sejarah kepencintaalaman Indonesia. Sejak saat itu, aku mulai tertarik
dengan sosok Gie, filmnya sudah berulang kali aku tonton, hingga saat ini
kata-kata Gie yang dituangkan pada catatan hariannya seringkali aku jadikan
quotes dalam berceloteh tentang kehidupan.
Baik, mari kita kembali lagi pada kisah sosok
seorang Gie. Seperti yang dipaparkan oleh Prof. Dr. Der. Soz. Gumilar Rusliwa
Somantri pada buku “Soe Hok – Gie Sekali Lagi, Buku Pesta dan Cinta di Alam
Bangsanya”, Soe Hok Gie merupakan cendikia muda yang meneruskan karakter
inpendensi para cendikia lama. Disebutkan (halaman xvii pada paragraf 1),
‘Pikirannya bak air bah yang tak
terbendung. Semuanya mengalir bebas tanpa menengok berbagai batasan, baik
politik, sosial, ekonomi, maupun budaya’.
Saat
remaja ia sudah berani mengkritik kesenjangan ekonomi yang semakin melebar pada
masa Orde Lama. Gie kesal dengan perilaku para pemimpin Indonesia yang saat itu
malah sedang sibuk makan-makan dengan istri-istri cantiknya. Kritikan tersebut
ia tulis pada catatan hariannya, “Kita, generasi kita, ditugaskan untuk
memberantas generasi tua yang mengacau, kita-lah yang dijadikan generasi yang
akan memakmurkan Indonesia”.
Soe Hok Gie dikenal juga sebagai sosok yang keras,
baik itu dalam hal intelektual maupun politik. Disebutkan (halaman xvii pada
paragraf 2 dan 3),
‘Buku-buku hasil karya pujangga terbaik dunia mulai
dari Albert Camus sampai Pramoedya Ananta Noer habis dilahapnya. Surat kabar
kritis seperti Indonesia Raya dan Pedoman pun menjadi sarapan paginya. Gie pun
semakin tertarik masuk dalam pusaran politik republik. Posisi politik Gie
sangat jelas, yakni demokrasi’.
Kematangan Politik Gie mulai terbentuk sejak ia
diterima sebagai mahasiswa sejarah di Fakultas Sastra Universitas Indonesia
pada akhir tahun 1961. Walaupun Fakultas Sastra bukanlah fakultas yang
bergengsi di UI, namun di fakultas tersebutlah letaknya gudang pemikiran dan
pergerakan politik yang dinamis di UI. Sikap berani, kritis dan politis Gie
kian tampak. Ia mengkritik sikap politisasi dan kooptasi pikiran-pikiran
akademis yang diwarnai dengan kekuatan politik mereka. Saat itu ia mengkritik
pidato pengukuhan Guru Besat Dekan Fakultas Sastra yang bernama Sutjipo
Wirsjosuprapto yang memuja-muji pikiran Soekoarno, Guru Besar tersebut tidak
mempertahankan intergritas dan independensi akademik sebagai seorang civitas
akademika.
Sikap idealis Soe Hok Gie juga kian matang, ia
menjadi tokoh utama di Mapala UI, organisasi pencinta alam yang dibangun atas
dasar aspirasi kehidupan yang sedeharana, berani bersahabat, dan mecintai alam.
Ia menegaskan bahwa tujuan dibentuknya organisasi tersebut adalah untuk
membangunkan kembali idealisme dikalangan mahasiswa untuk secara jujur dan
benar-benar mencintai alam, tanah air, rakyat, dan almamaternya. Hingga saat
ini organisasi kepencintaalaman seperti Sispala dan Mapala serta KPA (Komunitas
Pencinta Alam) terus berkembang dan tersebar luas hampir di setiap daerah di Indonesia.
Aku juga adalah seorang alumni Sispala dan sekarang sedang merintis kembali
Mapala di fakultasku, namanya Mipala (Mahasiswa Ilmiah Pencinta Alam). Hanya
saja kabar buruknya, semua berkas yang sudah diserahkan ke pihak fakultas
terkesan sia-sia saja, mereka para petinggi dekenat tidak menyepakati untuk
berdirinya kembali organisasi tersebut, lantaran tengah fokus dengan
re-akreditasi Jurusan Statistik dan Geofisika (baru beberapa hari yang lalu).
Tapi aku dan teman-teman seperjuangan tidak akan menyerah pada keputusan
tersebut, kami sudah diskusi untuk segera audiensi mengahadap petinggi dekanat.
Semoga saja usaha kami berhasil dan bisa mengikuti langkah Gie, melanjutkan
perjuangannya.
Organisasi Mapala di Indonesia telah banyak
melahirkan kader yang idealis, kritis dan berbobot. Misalnya, Dekan Fakultas
Ilmu Sosial dan Politik Universitas Tanjungpura adalah alumni Gempa (Gerakan
Mahasiswa Pencinta Alam) di fakultas tersebut. Orang nomor 1 di Indonesia,
Presiden Jokowi juga merupakan alumni Mapala di Fakultas Kehutanan Universitas
Gajahmada, Mapala Silvagama.
Kembali lagi pada sosok Gie, sikap kritis dan
idealisnya tidak putus pada organisasi Mapala, permasalahan politik dan sosial
saja. Sebagai aktivis mahasiswa, ia pernah di amanahkan sebagai Ketua Mapala
FS-UI dan Ketua Senat Mahasiswa Fakultas Sstra UI. Sikap kritisnya juga sering ia tuangkan
pada puisi-puisinya, puisi yang kritis, ada juga yang romantis dalam hal kasih
sayang dan cinta. Setelah menamatkan diri sebagai mahasiswaa, ia sempat
mengajar di Fakultas tempat ia menimba ilmu dulu.
Hobinya semasa kuliah sejalan dengan organisasi
Mapala yang ia jalani, ia seringkali mendaki gunung bersama rekan-rekannya.
Gunung yang terakhir kali ia daki adalah Gunung Sumeru, sebab di sinilah ia
menghembuskan nafas terakhirnya. Bersama Idhan Lubis, rekannya di Mapala.
Gunung Sumeru menjadi peristirahat terakhir Gie dalam kehidupannya. Nama Gie
kekal di gunung tersebut.
Nah, kurang lebih seperti itulah sosok Soe Hok Gie.
Terimakasih telah mampir dan membaca artikel ini. Mohon maaf jika masih
terdapat banyak kekurangan dalam penulisannya.
Sekali
lagi, SELAMAT ULANG TAHUN GIE....(17 Desember 1942 - 17 Desember 2018). Namamu
kan selalu kami kenang, namamu kan selalu menginspirasi kami, namamu kekal
dalam sejarah Indonesia.
Sebagai
penutup,
“Saya
memutuskan bahwa saya akan bertahan dengan prinsip-prinsip saya. Lebih baik
diasingkan daripada menyerah terhadap kemunafikan”
~ Soe Hok-Gie
Sumber:
·
Buku Soe Hok –
Gie Sekali Lagi, Buku Pesta dan Cinta di Alam Bangsanya.
·
Buku Soe Hok
Gie, Catatan Seorang Demonstran.