Akhirnya selesai juga ini cerpen, Paduka Bermulut Seribu (Cerpen pertamaku, sudah sekian lama mau nulis akhirnya kesampaian juga). Cerpen ini masuk dalam kategori cerpen mini (flash) dengan jumlah kata yang berkisar antara 750 hingga 1.000 kata. Semoga amanat dalam cerpen ini dapat tersampaikan dan membuat sebagian manusia yang belum sadar menjadi sadar dan yang sadar menjadi lebih sadar.
Oke langsung saja, ini ceritanya....
Kala itu ada
ada sebuah kerajaan yang dipimpin oleh sang paduka raja yang kononnya raja
tersebut dijuluki “Paduka bermulut seribu”. Nama kerajaan tersebut adalah
kerajaan perientah. Kerajaan perientah adalah salah satu kerajaan yang sangat
kontroversial di zamannya. Tak ada yang tak kenal dengan kerajaan tersebut,
karena keunikan dari rajanya. Nama rajanya adalah Oboy, ia terkenal pula dengan
kekayaannya. Raja Oboy mempunyai permaisuri yang sangat cantik, namun sifatnya
berbanding terbalik dengan rajanya. Permaisuri tersebut bernama Jindi. Hanya
permaisurinyalah yang bisa membuat isi istana dan rakyat dikerajaan tersebut
merasa terselamatkan, karena kebaikan dan kelembutan hatinya. Raja Oboy
mempunyai sebuah istana yang besar dan megah. Istana yang besar tersebut
membuat keunikannya seringkali terlihat. Ia selalu mengandalkan pelayannya, ia
malas bergerak dan hanya mulutnya yang bergerak. Seorang raja memang wajar ia
memiliki pelayan, tapi sayangnya raja Oboy berbeda dengan raja-raja lainnya.
Pelayannya ia jadikan kaki dan tangannya, ia memerintah sesuka hatinya. Terkadang
suatu hal yang seharusnya bisa ia kerjakan sendiripun harus dikerjakan
pelayannya. Mengambil barang-barang yang kisaran 1 meter darinya pun ia malas
bergerak.
Diakhir musim
panas datang seorang penasehat baru Raja Oboy. Penasehat raja yang lama telah minggat
dari kerajaan karena sudah tidak tahan lagi hidup dan bertugas dengan si Paduka
bermulut seribu. Penasehat yang baru adalah kerabat dekatnya raja Oboy sendiri,
ia bernama Ki Sadar. Seiring berjalannya waktu Ki Sadar pun mulai tak tahan untuk
menasehati Raja Oboy karena terkadang ia pun juga sering mendapat perintah,
padahal sudah ada pelayan-pelayannya. Ki Sadar mulai paham dengan sifatnya Raja
Oboy, ia hanya bisa bersabar ketika sering mendapat perintah. Ki Sadar pun
akhirnya memberanikan diri untuk bertanya ke kerabat dekatnya itu, “Raja
mengapa banyak pelayan dan penasehat minggat dari istana ini?”. “Mungkin mereka
tak tahan aku perintah terus” (Tawa kecil keluar dari mulut raja tersebut),
jawab Raja Oboy. Ki Sadar kembali bertanya “Paduka tidak kasihan dengan mereka
yang sering raja perintahi?”. “Haha untuk apa kasihan, mulut juga mulut aku”
pangkas Raja. Mulut Raja Oboy sangatlah proaktif, memang cocok ia dijuluki “Paduka
Bermulut Seribu”
Kerajaan
Perientah semakin hari semakin krisis. Krisis tersebut membuat rajannya
mengambil kebijakan untuk menerapkan sebuah program yang bernama “Perintahku”.
Program tersebut menjadi perbincangan kerabat dekat dan rakyatnya. Perintahku
adalah program yang mengharuskan semua orang yang dibawahnya untuk mengikuti
perintahnya. Hari demi hari rakyatnya pergi ke kerajaan tetangganya karena
tidak tahan dengan apa yang dilakukan Raja Oboy, ditambah lagi program barunya tadi.
Ki Sadar yang terkenal dengan kesabarannya pun akhirnya juga ikut pergi.
Raja Oboy
kebingungan karena semakin hari kerajaannya semakin sepi. Mungkin ia lupa
dengan apa yang telah ia lakukan. Raja Oboy tidak pernah peka dengan keadaan
rakyatnya, ia hanya bisa mengatur-ngatur dan memberi perintah. Menjelang hari ulang
tahun kerajaannya banyak tulisan tersebar di sudut-sudut bangunan kerajaan dan
di dekat pintu gerbang istananya. Isi tulisan tersebut adalah “SADARLAH WAHAI
PADUKA BERMULUT SERIBU, BERGERAKLAH JANGAN HANYA MEMBERI PERINTAH DAN
MENGATUR-NGATUR SAJA”. Ketika perarakan ulang tahunnya, Raja Oboy keluar istana
untuk menyapa rakyatnya, ia terkejut melihat tulisan tersebut. Hatinya diracuni
kata-kata tersebut, ia terdiam dan merenung sejenak. Setelah selesai Raja Oboy
kembali masuk ke istana, sesampainya di kamarnya ia langsung terbaring dan
kembali merenungi kata-kata dalam tulisan yang ia baca tadi. Raja Oboy
meneteskan air matanya karena perbuatan yang telah ia lakukakan sebelum-sebelumnya. Ia akhirnya sadar mengapa
banyak rakyatnya dan bahkan penasehatnya sendiri mingat dari kerajaan dan istananya. Hari-hari berikutnya sifat Raja Oboy mulai berubah, ia mulai
membiasakan dirinya untuk bergerak sendiri tanpa harus mengandalkan mulutnya.
Kebaikan Raja Oboy mulai terlihat, namun sayang ia jatuh sakit beberapa hari
terakhir ini. Seminggu kemudian terdengar berita duka dari istana, Raja Oboy meninggal dunia. Sangat disayangkan kematian Raja Oboy tersebut, karena
ia baru saja berubah dan mulai menunjukkan sifat baiknnya. Ada pesan yang ia
titipkan kepada anaknya sebelum ia menutup hidupnya. Isi pesannya “Nak kamu
jangan pemalas seperti ayah, kalau kamu
jadi raja nanti jangan sering mengandalkan mulutmu saja untuk mendapatkan apa yang kamu inginkan tapi bergeraklah, berbuatlah baik sebisamu nak, jangan
seperti ayahmu ini nak”.
Nahkoda kerajaan
akhirnya diwariskan ke anaknya, Pangeran Oku. Semenjak dipimpin raja Oku
kerajaan kembali membaik dan rakyat kembali berdatangan. Rakyat juga mulai merasakan
kesejahteraan dan perhatian dari rajanya. Raja Oku memimpin kerajaan sesuai
dengan pesan yang disampaikan almarhum ayahnya. Pesan Raja Oboy sangat ampuh untuk
pewaris kerajaannya, untuk mengenang Almarhum ayahnya Raja Oku membuat
sebuah tugu yang bertuliskan pesan dari ayahnya.
Kerajaan Perientah kembali berjaya, kerajaan tersebut tak lagi dikenal
kontroversial namun ada banyak perubahan baik yang muncul, rakyatnya semakin sejahtera dan tak ada lagi yang merasa tertekan karena perintah.

No comments:
Post a Comment